Novrygunawan's Blog

Desember 4, 2009

Iklan rokok

Filed under: Uncategorized — novrygunawan @ 5:41 pm

Penulisan di blog ini bertujuan untuk menjalankan tugas dan kewajiban saya Novry Gunawan kelas 3EA14 NPM 10207804 sebagai Mahasiswa di Universitas Gunadarma kalimalang, Bekasi barat untuk mata kuliah perilaku konsumen dan memberikan informasi kepada khalayak ramai tentang iklan rokok yang isi nya saya ambil dari banyak refrensi.

Saya mulai saja,

Strategi komunikasi adalah siasat,cara dan jembatan yang dipakai kreator iklan dalam mengkomunikasikan suatu pesan agar berbeda dari kompetitornya. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkap strategi komunikasi dari iklan televisi rokok di Indonesia dalam menyampaikan pesan iklannya. Dengan dibatasi peraturan yang terbilang cukup menyulitkan, muncul tantangan tersendiri bagi para kreator iklan untuk mencari suatu strategi komunikasi yang tepat. Dilarang memvisualisasikan wujud dan bungkus rokok serta tidak boleh mengajak khalayak untuk merokok merupakan peraturan yang cukup berat. Ditambah aturan jam tayang iklan yang dimulai dari pukul 21.30 hingga pukul 05.00 waktu setempat. Strategi komunikasi dari ketiga iklan rokok yang akan dibahas; yakni produk rokok A-Mild, Star Mild, dan L.A.Lights, mengangkat cuplikan kehidupan masyarakat dikemas secara kreatif.

Iklan produk rokok mild (A-Mild, Star Mild, dan L.A.Lights) pada media televisi yang dipilih. Hal ini dikarenakan rokok mild merupakan terobosan baru pada pasar Indonesia yang tengah dikuasai oleh rokok kretek. Tahun 1989, rokok mild menjawab keinginan pasar dan digemari anak muda. Hal ini karena rokok mild terkesan lebih “sehat” serta didukung dengan iklannya yang menyuarakan isi hati dan keinginan anak muda yang cenderung memberontak terhadap peraturan yang ada. Tak kalah dengan rokok kretek, rokok mild juga mempromosikan produknya melalui iklan pada media televisi. Media televisi dengan keunggulan daya jangkauannya yang luas, serta tampilan dalam bentuk audio dan visual, televisi menjadi media pilihan utama produsen rokok untuk mempromosikan produknya.

Tulisan ini akan membongkar strategi komunikasi kreatif dari ketiga iklan rokok tersebut sebagian besar menggunakan kombinasi slice or life, story line, dan close-up. Strategi slice or life memanfaatkan penggalan dari kehidupan sehari-hari dalam bersosialisasi dengan masyarakat lain. Strategi story line dipakai untuk membuat semua khalayak, tertarik mengikuti alur cerita iklan, yang pada umumnya menarik, seperti penggalan film pendek. Strategi close-up dipakai dalam ketiga iklan rokok untuk menunjukkan kejelasan ekspresi pemeran iklan. Ketiga strategi komunikasi dalam penyamapaian pesan tersebut saling mendukung dan menciptakan iklan yang menarik, kreatif, dan sesuai dengan khalayak sasarannya.

Dari ketiga iklan rokok diatas yang saya sebutkan yaitu A-mild, Star Mild dan LA Lights saya akan bahas lebih dalam lagi tentang iklan rokok A-Mild.

A-mild A-Mild merupakan fenomena pemasaran yang dianggap cukup sukses di Indonesia. Selama ini banyak sekali merek rokok dengan pencitraan masing-masing bermunculan di dunia persilatan rokok. Teknologi produksi rokok di Indonesia tergolong rendah sehingga hambatan bagi pendatang baru (barrier of entrance) rendah. Namun sayangnya, meski biaya peluncuran sebuah merek rokok baru relatif ringan tidak banyak rokok-rokok baru yang dapat bertahan di dalam pertempuran bisnis asap ini. Bahkan yang bertahan hingga saat ini pun hanya mampu mengandalkan hidupnya pada ceruk pasar yang sedemikian kecil sehingga pendapatannya pun relatif tidak besar, terlebih banyak merek rokok yang memiliki anggaran iklan yang cukup besar tapi pada akhirnya jatuh juga.

A-Mild bisa sukses bukan karena dilahirkan dari perusahaan yang besar, Sampoerna. A-Mild harus melancarkan seluruh proses pemasaran strategis secara efektif dan implementatif. Bahkan sebelum diluncurkan secara gencar, A-Mild harus melakukan riset tentang brand attribute tracking pada studi perilaku penggunaan serta pengamatan citra selama 3 bulan secara intensif dan hasilnya menunjukkan ternyata sebanyak 65% perokok yang mencoba A-Mild menolak karena dirasa terlalu ringan. Namun fakta dibalik itu, kadang-kadang mereka masih menghisapnya karena rendahnya kandung tar dan nikotin dalam A-Mild.

Selanjutnya A-Mild memakai pendekatan komunikasi dengan gaya hidup, namun nyatanya pendekatan tersebut sudah banyak dipakai oleh incumbent percaturan bisnis rokok di Indonesia seperti Djarum dan Gudang Garam yang pada akhirnya justru tidak dapat menonjolkan A-Mild dari dua rokok pesaing tersebut karena tidak memiliki perbedaan yang cukup berarti.

Jebakan ini memaksa Sampoerna untuk melakukan repositioning A-Mild di pasaran. Karakter dasar dari produk itu sendiri yang seharusnya menjadi keunikan tersendiri dari produk pesaing. Dalam hal ini, A-Mild memiliki kadar tar dan nikotin yang paling rendah dari seluruh rokok di Indonesia.

A-Mild hanya memiliki kandungan nikotin 1,1 mg dan tar 15 mg per batangnya, sementara produk pesaing kadar nikotinnya bisa berkisar 2 mg ke atas dan kandungan tarnya bisa mencapai 50 mg per batang. Sehingga inilah yang menjadikan A-Mild benar-benar berbeda dari produk rokok lainnya, muncullah caption “How low can you go?”

Positioning inilah yang tidak dimiliki oleh produsen rokok lainnya. Para perokok yang sebenarnya mengetahui bahaya menghisap rokok, tapi pada dasarnya mereka juga mendambakan kesehatan, sehingga A-Mild pun mampu menciptakan ceruk pasar yang baru yaitu konsumen muda. Iklan-iklan A-Mild dirancang sedemikian rupa agar menggeser  gaya hidup anak muda menuju pada gaya hidup A-Mild. Positioning ini akan sangat berbeda dengan para rivalnya ketika semuanya mengedepankan gaya hidup tentang citra diri.

Kampanye A-Mild dalam awal peluncurannya tidak hanya bertengger di ranah above the line namun juga masuk ke daerah below the line agar dapat lebih dekat dengan target marketnya. A-Mild sangat gemar menjadikan dirinya sebagai sposor utama di event-event anak muda. Acara-acara semacam ini memiliki karakter tertentu yang dapat berpengaruh langsung pada aspirasi asosiasi dan brand personality.

Referensi dari : – Studi antar kasus rokok A-Mild, Star Mild dan LA LIGTHS Novita puspasari karana

– Mencari di http://www.google.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: