Novrygunawan's Blog

Februari 24, 2010

Pengertian penalaran Deduktif

Filed under: Uncategorized — novrygunawan @ 2:40 pm

Penalaran dan Analisa silogis kategorial.

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Metode deduktif

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Penalaran Deduktif

Penalaran yang bertolak dari sebuah konklusi atau kesimpulan yang didapat dari atau lebih pernyataan yang lebih umum.

Dalam penalaran Deduktif terdapat premis. Yaitu proposisi tampak menarik kesimpulan.

Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.

Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis

Penarikan tidak langsung ditarik dari dua premis.

Premis pertama adalah premis yang bersifat umum sedangkan premis kedua adalah yang bersifat khusus.

Jenis penalaran deduksi yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu :

  1. Silogisme Kategorial
  2. Silogisme Hipotesis
  3. Silogisme Alternatif
  4. Silogisme Entimen

Silogisme Kategorial

Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.

  • Premis Umum       : Premis Mayor (My)
  • Premis Khusus      : Premis Minor (Mn)
  • Premis Simpulan : Premis Kesimpulan (K)

Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.

Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut :

  1. Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah
  2. Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
  3. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
  4. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
  5. Dari premis yang postif, akan dihasilkan simpulan yang positif
  6. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
  7. Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
  8. Dari premis mayor khusus dan premis mayor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

Contoh silogisme Kategorial :

  1. My  : Semua pekerja di Sharp adalah lulusan S1.
  2. Mn  : Novry adalah pekerja.
  3. K     : Novry lulusan S1.
  1. My  : Tidak ada manusia yang sempurna.
  2. Mn  : Novry adalah manusia.
  3. K     : Novry tidak sempurna.
  1. My  : Semua pekerja memiliki keahlian.
  2. Mn  : Novry tidak memiliki keahlian.
  3. K     : Novry bukan pekerja.

Silogisme Hipotesis : Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.

Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, bila simpulannya juga menolak berarti konsekuen.

Contoh :

  1. My  : Jika tidak ada makanan, manusia akan kelaparan.
  2. Mn  : Makanan tidak ada.
  3. K     : Jadi, manusia akan kelaparan.
  1. My  : Jika tidak ada matahari, tumbuhan tidak akan berfotosintesis.
  2. Mn  : Tumbuhan tidak akan berfotosintesis.
  3. K     : Tumbuhan tidak dapat matahari.

Silogisme Alternatif : Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.

Proposisi Alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Contoh :

  1. My  : Supplier Sharp berada di Bandung atau Sukabumi.
  2. Mn  : Supplier Sharp berada di Bandung.
  3. K     : Jadi, Supplier Sharp tidak berada di Sukabumi.

Entimen

Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

Contoh Entimen :

  1. Dia menerima ciuman pertama kali karena dia telah berpacaran.
  2. Anda telah menerima ciuman saat berpacaran, karena itu anda berciuman.

Refrensi dari :sepitri.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/…/slide+penalaran.ppt

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: